Monday, February 22, 2016

Fort Rotterdam - Jalan-Jalan Ke Fort Rotterdam

Fort Rotterdam yang berdiri kokoh di kota Makassar Provinsi Sulawesi-Selatan ini merupakan satu dari banyak sisa-sisa jejak sejarah di indonesia.

Fort-Rotterdam-Patung-Sultan-Hasanuddin

Fort rotterdam lebih banyak di kenal masyarakat hanya sebatas museum. Namun tahukah mengenai nilai sejarah di balik kokohnya benteng ini.

Fort-Rotterdam
Add caption
Fort Rotterdam, sebuah benteng yang dibangun oleh Raja Gowa ke (10) pada tahun (1545) dan di kenal dengan nama Benteng Ujung Pandang pada masa itu.

Benteng ini merupakan tempat tinggal Raja bersama keluarganya di mana terdapat sebuah rumah panggung, sebelum kemudian dihancurkan oleh belanda. Belanda menggempur benteng dalam waktu cukup lama yang diperkirakan selama lebih dari setahun, hingga akhirnya belanda berhasil menembus pertahanan benteng dan menghancurkan rumah panggung Raja serta seisi benteng. Alasan belanda dalam serangan ini ialah agar armada dagang dari VOC dapat dengan mudah masuk ke sulawesi. Kemudian Belanda membuat perjanjian dimana belanda mewajibkan kerajaan gowa menyerahkan benteng ujung pandang ke pihak belanda dan juga memaksa Sultan Hasanuddin menandatangani perjanjian tersebut. Yang kemudian di kenal dengan Perjanjian Bongaya (1667).



Setelah Benteng ujung pandang sepenuhnya di kuasai oleh pihak Belanda, nama benteng ujng pandang lalu di ganti menjadi benteng ford rotterdam, Bangunan benteng di tata ulang sesuai arsitektur Belanda dan menjadi pusat pemerintahan Wilayah Indonesia Timur.
Pada masa penjajahan Jepang, Benteng kemudian baralih fungsi pusat studi pertanian dan bahasa.

Fort-Rotterdam-Kuno

Fort-Rotterdam-Atas

Ketika anda berkunjung ke benteng Fort Rotterdam, anda akan merasakan lekatnya peninggalan sejarah dari masa penjajahan belanda. Jejak jejak sejarah ini dapat anda saksikan hampir di seluruh bagian benteng. Sebuah gereja peninggalan Belanda dan Meseum La Galigo dengan 5.000 koleksi peninggalan prasejarah, keramik asing, numismatic, naskah, dan etnografi serta berbagai jenis hasil teknologi pada masa itu, kesenian, peralatan hidup dan benda-benda kuno dan digunakan oleh suku Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja ketika itu. Di dalam Benteng juga terdapat ruang tahanan yang salah satunya pernah pihak belanda gunakan untuk menahan Pangeran Diponegoro.
Sekarang Benteng Fort Rotterdam ini menjadi pusat kebudayaan dan seni.